Waspada! Kelelahan sebagai Indikasi Aritmia

Waspada! Kelelahan sebagai Indikasi Aritmia
Info Kesehatan - Merasa kelelahan setelah beraktivitas, tentu hal ini wajar. Namun, akan menjadi tidak wajar bila rasa lelah itu sering Anda rasakan dan berlangsung lebih dari sehari, bahkan dalam kurun waktu seminggu.  SEPUTARINFO

Bisa jadi itu adalah gejala aritmia. “Semua penyakit umumnya dicirikan dengan kelelahan, tetapi 20% di antaranya gejala aritmia, yaitu kelainan irama jantung yang tidak reguler,” ujar dr Dicky Armein Hanafy SpJP (K) FIHA dalam acara Overview dan Outlook tentang Penyakit Aritmia di Indonesia Tahun 2018 di RS Harapan Kita, Rabu (24/1/2018).

Gejala lain yang mungkin dirasakan, seperti jantung berdebar, rasa sakit atau nyeri pada dada, pusing, sering buang air kecil, bahkan pingsan. Apabila ada dua atau tiga dari gejala ini yang Anda rasakan, ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

Tidak main-main, aritmia merupakan penyakit yang bisa merenggut nyawa, seperti yang dialami pemerhati kuliner Tanah Air, Bondan Winarno, pada pengujung tahun lalu. Sebagai gambaran, jantung bekerja terus-menerus karena otomatisitas sistem listrik.

Sistem listrik jantung terdiri atas generator listrik alamiah, yaitu nodus sinoatrial (SA) dan jaringan konduksi listrik dari atrium ke ventrikel. Gangguan pada pembentukan dan atau penjalaran impuls listrik ini menimbulkan penyakit aritmia.

Dengan kata lain, aritmia adalah irama yang bukan berasal dari nodus SA atau irama yang tidak teratur, sekalipun berasal dari nodus SA atau frekuensi kurang dari 60 kali/menit (sinus bradikardi) atau lebih dari 100 kali/menit (sinus takikardi).

Berdebar adalah gejala tersering aritmia, tetapi spektrum gejala aritmia cukup luas, mulai berdebar, keleyengan, pingsan, stroke, bahkan kematian mendadak. Dari segi kecepatannya, aritmia terbagi menjadi dua garis besar; bradiaritmia, detak jantung terlalu lambat dengan perhitungan 60 kali per menit (kpm), dan takiaritmia, detak jantung terlalu cepat lebih dari 100 kpm.

Aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrial (AF). Prevalensi AF di Indonesia sebesar 2,2 juta orang, dan 40% di antaranya mengalami stroke. Maka itu, Ketua Indonesia Heart Rhytm Society (InaHRS) tersebut menyarankan kepada masyarakat agar selalu waspada, mengingat aritmia dapat menyebabkan stroke lima kali lebih tinggi dibanding gangguan kesehatan lainnya.

“Jangan lupa lakukan Menari (meraba nadi sendiri) minimal sekali sehari setiap bangun tidur,” ucap dr Dicky. Caranya dengan meraba nadi di pergelangan tangan menggunakan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Cari posisi yang tepat sampai denyut nadi bisa dirasakan. SEPUTARINFO

No comments: